0 items in your shopping cart

No products in the cart.

ANDA TIDAK DAPAT MENGIKUTI SIAPAPUN

Saya tidak dapat mengikuti Musa. Ya, karena ia sudah tidak ada. Demikian juga dengan Ibrahim, Isa, Buddha atau Muhammad. Saya tidak dapat mengikuti mereka karena mereka sudah tidak ada. Kalau saya memaksakan diri mengatakan mengikuti guru yang sudah tidak ada, maka sebenarnya saya hanya mengikuti imajinasi saya tentang mereka.

Siapa yang dapat mengerti dan paham betul apa yang disampaikan oleh Musa? Ibrahim? Buddha? Muhammad dan Isa? Tidak ada, karena yang mengerti dan paham betul adalah mereka sendiri yang mengajarkan ajarannya. Lalu apabila kita sekarang berusaha memahami apa yang disampaikan oleh para guru yang telah tiada, maka yang coba kita pahami adalah interpretasi orang lain atas ajaran tersebut.

Saya mengatakan interpretasi orang lain, karena kita biasanya merujuk kepada pendapat orang lain yang dianggap dapat menterjemahkan ide awal dari ajaran yang ada. Dan celakanya, orang yang dianggap dapat menterjemahkan tersebut menganggap bahwa hanya interpretasi dari dirinya yang benar. Tidak ada interpretasi yang benar! Semua interpretasi merupakan kebenaran karena hanya merupakan tanggapan atas ajaran yang pernah ada. Dan kembali lagi, siapa yang benar-benar paham dari ajaran semula? Tidak ada!

Kita semua sedang menginterpretasikan ajaran yang dulunya ada (hal ini berlaku bila anda masih mengikuti ajaran dari lembaga agama) – Anda tidak sedang belajar ajaran Musa, anda hanya sedang belajar atas interpretasi ajaran Musa. Anda tidak sedang belajar ajaran Yesus, anda hanya sedang belejar atas interpretasi ajaran Yesus. Anda tidak sedang belajar ajaran Muhammad, anda hanya sedang belajar atas interpretasi ajaran Muhammad.

Anda tidak sedang belajar ajaran Buddha, anda hanya sedang belajar atas interpretasi ajaran Buddha.

Lalu siapa yang anda ikuti? Jelas, karena anda belajar atas intrepretasi ajaran, maka yang anda ikuti adalah mereka yang menginterpretasikan ajaran tersebut.

Sebagai contoh, apabila saya belajar ajaran Muhammad dari ustad Roby Martin, maka saya tidak sedang belajar ajaran Muhammad. Saya sedang belajar tentang interpretasi ustad Roby atas ajaran Muhammad. Dan yang saya ikuti adalah ustad Roby Martin, bukan Muhammad.

Kadang kita sombong mengatakan telah mengikuti para Nabi ini dan itu. Bagaimana anda dapat mengikutinya sedangkan mereka sudah tidak ada? Yang sedang anda ikuti adalah apa interpretasi orang lain atas ajaran yang ada.

Kalau kita tidak dapat mengikuti mereka yang sudah tidak ada, lantas apa yang dapat kita lakukan? Yang dapat kita lakukan adalah meneladani atas interpretasi dari kisah-kisah mereka.

Mengikuti adalah tekstual, sedangkan meneladani adalah kontekstual.

Banyak orang terjebak dengan bingkai bahwa ada orang lain yang dapat memahami dengan benar atas pemikiran orang lain. Tidak ada yang dapat memahami dengan benar atas pemikiran Ibrahim, Musa, Yesus atau Muhammad. Kita semua sedang melakukan interpretasi atas semua pemikiran mereka. Dan tidak ada yang berhak memonopoli atas interpretasi tersebut, karena apapun interpretasi yang ada maka itulah kebenaran bagi dirinya. Yang menjadi tolok ukur bagi kehidupan bersama dan bermasyarakat adalah tidak saling mengganggu, mencela, mencelakakan atau bahkan saling bunuh hanya karena tidak setuju atas interpretasi yang ada.

Ketika yang memahami dengan benar ajaran Buddha (Sidharta) tidak ada, maka sebenarnya ajaran asli Buddha berakhir ketika Sidharta menutup mata. Demikian juga dengan ajaran-ajaran lainnya. Ajaran asli dari penyampai awal berakhir bersama dengan mereka meninggalkan dunia. Setelah itu yang berkembang adalah interpretasi-interpretasi atas ajaran yang pernah ada.

Karena itulah Musa mengeluarkan 10 perintah Tuhan karena ajaran Ibrahim sudah berakhir bersama meninggalnya Ibrahim. Yesus mengeluarkan ajaran baru karena ajaran Musa berakhir bersama meninggalnya Musa. Muhammad mengeluarkan ajaran baru karena ajaran Yesus berakhir  bersama meninggalnya Yesus. Anda dapat mengatakan bahwa ajaran yang ada  setelah ajaran awal adalah menyempurnakan, boleh-boleh saja.  Yang jelas mereka paham tentang ‘living master’ yaitu pentingnya guru sejaman yang hidup – seorang guru yang masih bisa ditanya langsung apabila ada yang tidak dipahami tentang ajarannya.

Kembali kepada contoh di atas, apabila saya belajar Islam dari ustad Roby, maka Islam saya bukanlah Islam Muhammad, melainkah Islam Roby. Kalau saya belajar Kristen dari Bob, maka Kristen saya bukan Kristen Yesus, melainkan Kristen Bob. Kalau saya belajar Hindu dari Komang, maka Hindu saya bukan Hindu Siwa, melalinkan Hindu Komang.

Hal ini sama ketika Kristen masuk ke Indonesia, maka ia menjadi Kristen Indonesia, bukan Kristen Roma. Ketika Islam masuk ke Indonesia, maka ia menjadi Islam Indonesia, bukan Islam Arab. Ketika Hindu masuk ke Indonesia, maka ia menjadi Hindu Indonesia, bukan Hindu India. Dan dengan demikian maka ajaran asli hanya dapat dijadikan teladan. Ia akan menjadi ajaran-ajaran baru dengan asimilasi dan interpretasi budaya yang ditempatinya.

Untuk itu pulalah, kalau ada anggapan bahwa kita tidak semestinya mengimport ajaran-ajaran luar karena kita punya ajaran sendiri, yaitu ajaran lokal Nusantara! Walaupun ajaran lokal, ketika hal itu sudah dinterpretasikan, maka ia sudah menjadi ajaran baru dengan pemahaman baru. Kemudian kondisinya sama, yaitu tidak ada satupun yang memahami dengan benar apa itu ajaran lokal. Ia hanya melakukan interpretasi atas ajaran yang pernah ada. Dan semua orang Nusantara mempunyai hak atas interpretasi tersebut. Ia mempunyai cara pandang kebenaran sendiri-sendiri atas jalan hidup yang diterjemahkan dari ajaran yang ia pahami.

Be your self, be authentic.

Tidak ada yang dapat anda ikuti. Setiap dari kita hanya dapat meneladani orang lain dari sudut pandang kita sendiri. Menjadi diri sendiri yang otentik, bukanlah menjadi seperti para Nabi dan para Master yang pernah ada. Ajaran mereka sudah tidak ada, sama sekali tidak ada. Yang ada adalah interpretasi anda atas ajaran tersebut.

Love & Blessing

Leave a response