0 items in your shopping cart

No products in the cart.

APAKAH MESIR HANCUR KARENA MENGUTAMAKAN INFRASTRUKTUR?

Saya membaca sepenggal tulisan ini:

Siapa yang bangga bisa membangun infrastruktur? Maka sampaikanlah pada dia bahwa Firaun juga bisa membangun infrastruktur Mesir menjadi negara gemerlap, penduduknya hidup makmur tapi fir’aun menistakan Agama, maka Tuhan mengutus Musa untuk menghancurkan dia.”

Entah, ada tendensi apa dari kalimat tersebut terhadap pembangunan infrastruktur sehingga dihubungkan dengan keyakinan agama yang seolah-olah membangun infrastruktur disamakan dengan Fir’aun dan kedzaliman yang nantinya diancam kehancuran.

Secara ‘deep structure’ kalimat di atas juga akan mengatakan bahwa ia yang membangun infrastruktur adalah ia yang menistakan agama.

Baik, saya tidak akan berpolemik terhadap keyakinan yang demikian. Silahkan bagi yang meyakini hal tersebut dan mempunyai solusi yang lebih baik dari pembangunan infrastruktur, tentu akan sangat bermanfaat bagi kemajuan bangsa kita sendiri. Namun apabila pembangunan infrastruktur yang dihubungkan dengan Fir’aun hanya untuk mengumpulkan simpati atas dasar keyakinan yang nantinya dipergunakan untuk menolaknya, maka mari kita kembali melihat sejarah panjang peradaban Mesir di mana pemerintahan Fir’aun berkuasa dan apa saja penyebab Mesir hancur.

Peradaban Mesir terbentuk kira-kira 10.000 tahun yang lalu karena suku-suku nomaden gurun Sahara Afrika yang mulai menetap didaerah subur sekitar sungai Nil. Mereka hidup di sana berkelompok yang akhirnya membangun dua kerajaan yang berbeda wilayah dan masing-masing berdaulat atas wilayahnya. Kedua kerajaan itu adalah Kerajaan Mesir Hilir (Upper Egypt) yang berpusat di Memphis dan Kerajaan Mesir Hulu (Lower Egypt) yang berpusat di Thebes.

Baru pada tahun 3100 SM, Mesir hanya memiliki satu kerajaan saja dan para penguasanya bergelar Fir’aun atau Phararoh. Bersatunya dua kerajaan menjadi satu kerajaan tersebut atas upaya Meni (atau ‘Menes’ dalam literatur Yunani dan dikenal juga dengan ‘Namer’ dalam literatur lainnya) yang mempersatukan wilayah Mesir tersebut.

Saya membaca catatan Para ahli yang saya temukan di internet bahwa sejarah Mesir Kuno dibagi menjadi tiga periode, yaitu: Kerajaan Lama, Kerajaan Pertengahan dan Kerajaan Baru.

  1. Kerajaan Lama (old kingdom) memiliki enam dinasti, mulai Dinasti I sampai Dinasti VI dan berlangsung dalam rentang waktu tahun 3100-2181 SM.
  2. Kerajaan Pertengahan (middle kingdom) memiliki sebelas dinasti, mulai Dinasti VII sampai Dinasti XVII dan berlangsung dalam kurun waktu tahun 2181-1550 SM.
  3. Sedangkan Kerajaan Baru (new kingdom) mempunyai tiga belas dinasti, mulai Dinasti XVIII sampai Dinasti XXX dan berlangsung dalam kurun waktu tahun 1550-343 SM.  Dengan demikian, kerajaan Mesir Kuno secara keseluruhan memiliki tiga puluh dinasti yang secara silih berganti memerintah negeri yang identik dengan Sungai Nil ini.

Kalau kita lihat rentang berdirinya Kerajaan Mesir ini, yang dimulai dari 3100 SM sampai 343 SM, artinya bahwa kerajaan Mesir yang dipimpin oleh raja dengan gelar Firaun tersebut berdiri selama 2.757 tahun! Ya, 2.757 tentu bukan waktu yang pendek untuk mengatakan bahwa pembangunan infrastruktur yang megah di Mesir dilaknat dan dihancurkan oleh Tuhan.

Saya kembali pada paragraf pertama. Apabila Fir’aun dihubungkan dengan Musa, artinya ini terjadi pada masa pemerintahan Raja Ramses II atau Minephtah (putra Ramses II). Ada beberapa pendapat mengenai Firaun dalam cerita Musa ini, namun saya tidak mengajak berpolemik tentang siapanya. Saya hanya ingin mengajak melihat rentang tahun yang kira-kira masuk dalam kurun waktu itu.

Ramses II memerintah selama 67 tahun pada 1304-1237 SM, sedangkan Minephtah memerintah selama 8 tahun pada 1232-1224 SM. Artinya, entah Ramses II atau Minephtah kurun waktunya hanyalah 80 tahun, yaitu 1304 – 1224 SM. Apabila kehancuran Mesir hanya dilihat dari tahun Fir’aun yang menurut cerita ditenggelamkan oleh Musa ini dan Mesir hancur saat itu karena pembangunan infrastruktur yang megah namun menistakan agama, maka pembuat kalimat di atas harus melihat kembali sejarah peradaban Mesir kuno tersebut.

Apabila dilihat dari cerita yang diambil sebagai argument kehancuran Mesir yang dilaknat Tuhan pada tahun 1304-1224 SM tersebut, berarti masuk kepada periode ketiga, yaitu Kerajaan Baru (new kingdom), yang mempunyai tiga belas dinasti, mulai Dinasti XVIII sampai Dinasti XXX dan berlangsung dalam kurun waktu tahun 1550-343 SM.

Mungkin pembuat statement tersebut lupa, bahwa kehancuran Mesir bukanlah tahun 1224 saat Fir’aun ditenggelamkan oleh Musa, namun berakhirnya peradaban Kerajaan Mesir adalah tahun 343 SM, yaitu masih 881 Tahun dari semenjak cerita Fir’aun tenggelam tersebut! Jadi setelah Musa melarikan diri dari Mesir, Fir’aun masih berkuasa selama 881 tahun lagi! Jadi infrastruktur dan bangunan megah yang mana yang hancur saat itu juga?

Kemudian mengapa peradaban Kerajaan Mesir berakhir pada tahun 343 SM? Setelah generasi Fir’aun memerintah selama 2.757 tahun? Tentu hal ini ada beberapa sebab yang dapat dijelaskan daripada sekedar laknat Tuhan karena menistakan agama.

Keruntuhan kerajaan Mesir tersebut disebabkan oleh beberapa hal, antara lain terjadinya perebutan kekuasaan antara pimpinan agama saat itu yang makin menguasai kehidupan masyarakat dengan raja. Hal tersebut menyebabkan perang saudara. Pada saat itu juga, Alexander Yang Agung menaklukan Mesir dengan sedikit perlawanan dari bangsa Persia yang menguasai wilayah ini sejak tahun 522 SM. Pemerintahan yang didirikan oleh penerus Alexander dibuat berdasarkan sistem Mesir, dengan ibukota di Iskandariyah (Alexandria). Kota tersebut menunjukkan kekuatan dan peradaban kekuasaan Yunani, dan menjadi pusat pembelajaran dan budaya yang berpusat di Perpustakaan Iskandariyah.

Sampai di sini kita dapat melihat sejarah, bahwa Mesir tidak dihancurkan oleh Tuhan. Peradaban Mesir masih diakomodir oleh Yunani yang menguasainya. Budaya Yunani tidak menggantikan budaya asli Mesir karena penguasa Dinasti Ptolemeus mendukung tradisi lokal untuk menjaga kesetiaan rakyat. Mereka membangun kuil-kuil baru dalam gaya Mesir, mendukung kultus tradisional, dan menggambarkan diri mereka sebagai Fir’aun.

Infrastrukrur Mesir dan bangunan-bangunan megahnya tidak hancur lebur dan luluh lantak seperti narasi dalam paragraf pertama artikel ini. Untuk itu, saya mengajak kepada semua pembaca untuk terus belajar (Iqra) agar kita tidak digunakan sebagai alat para oknum pemuka agama yang mengambil simpati dukungan hanya karena sepenggal cerita yang seolah-olah membenarkan tentang adanya infrastruktur dan bangunan megah yang hancur karena menistakan agama.

 

Salam Cerdas Indonesia!