0 items in your shopping cart

No products in the cart.

CUBLAK SUWENG

Tulisan ini adalah tulisan lama saya tahun 2010 yang pernah saya posting di blog pertama saya. Karena blog tersebut sudah saya tutup, kali ini saya hadirkan kembali tulisan ini;

Cublak-cublak suweng,

suwenge teng gelenter,

mambu ketundhung gudhel,

pak empo lera-lere,

sopo ngguyu ndhelikake,

Sir-sir pong dele kopong, sir-sir pong dele kopong.

Lirik lagu diatas adalah lagu yang biasa dinyanyikan dalam permainan anak-anak di Jawa pada saat saya masih kecil. Saya masih sangat ingat, saat itu, kira-kira kami ber tujuh. Satu orang dalam posisi telungkup menutup mata, dan kami berenam duduk bersimpuh mengelilingi yang telungkup dengan tangan diatas punggungnya. Salah satu dari kami menyembunyikan batu kerikil yang akan ditebak oleh teman yang telungkup tadi.

Sebuah permainan yang biasa saya mainkan bersama teman-teman pada sore hari atau pada waktu sinar bulan terang menyinari kampung kami.

Sepertinya sederhana dan biasa. Hanya sebuah lagu yang dinyanyikan oleh anak-anak sebagai pengiring permainan. Namun dalam perjalanan setelah saya menyelami budaya Jawa, terutama pada waktu saya menggali literature serat Wulang Reh (yang akhirnya jadi buku Javanese Wisdom), dan juga Serat Niti Sruti (sedang saya persiapkan jadi sebuah buku baru seri Javanese Wisdom), mau tidak mau saya bersentuhan dengan segala sesuatu yang ada hubungannya dengan filosofi Jawa.

Memang ada beberapa versi lirik lagu Cublak-cublak Suweng ini. Beberapa daerah di Jawa mungkin mempunyai sedikit perbedaan dalam liriknya. Yang saya tuliskan di sini adalah versi saya pada saat saya masih kecil menyanyikannya, dan tentunya saya masih hapal sampai sekarang.

Lagu ini, entah siapa yang menciptakan (saya tidak akan berpolemik siapa yang menciptakan, karena banyak versi tentang hal tersebut), bagi saya siapapun yang menciptakan telah menciptakan sebuah lirik filosofi kehidupan yang sangat dalam dan sarat akan pelajaran kemuliaan.

Saya akan mencoba menyelami arti filosofi dari lagu Cublak-Cublak Suweng ini secara bebas. Artinya saya akan bebas mengartikannya sesuai kesadaran saya saat ini dan sesuai dengan pemahaman saya atas ‘sanepo’ atau lambang yang sering digunakan oleh orang Jawa. Ya orang Jawa banyak menggunakan lambang untuk mengajarkan sesuatu.

  • Cublak-cublak suweng,

Cublak adalah tempat, dan Suweng adalah nama salah satu jenis perhiasan wanita (harta yang sangat berharga). Dalam lirik pertama digambarkan bahwa ‘ada sebuah tempat di mana tempat tersebut menyimpan harta yang sangat berharga

  • Suwenge teng gelenter,

Suwenge adalah nama jenis perhiasan tersebut atau harta yang sangat berharga tersebut. Teng Gelenter adalah berserakan di mana-mana, terdapat di mana-mana, ada di semua arah penjuru.

  • Mambu ketundhung gudhel,

Mambu adalah tercium. Ketundhung adalah dituju. Gudhel adalah sebutan anak kerbau. Tercium yang kemudian dituju oleh anak kerbau. Lirik ini menggambarkan adanya sebuah kabar yang didengar oleh orang bodoh atau orang yang tidak tahu (digambarkan sebagai Gudhel) . Orang-orang yang tidak tahu ini mendengar sebuah kabar yang kemudian menuju ke arah kabar tersebut.

  • Pak empo lera-lere,

Pak empo adalah gambaran dari orang-orang bodoh tersebut. Lera-lere adalah tengak-tongok kiri kanan. Lirik ini menggambarkan bahwa orang-orang bodhoh tersebut hanya tengak-tengok kiri-kanan tidak tahu apa-apa.

  • Sopo ngguyu ndhelikake,

Sopo ngguyu adalah siapa yang tertawa. Ndhelikake adalah menyembunyikan. Lirik ini menggambarkan bahwa ada yang menyembunyikan sesuatu dan tetap tertawa. Artinya ia tertawa bahwa tahu ada sesuatu yang di sembunyikan.

  • Sir-sir pong dele kopong,

Pong adalah pengulangan kata dari dele kopong. Dele kopong adalah kedelai yang kosong tidak ada isinya. Lirik ini menggambarkan tentang kekosongan jiwa, kekosongan pikiran, kekosongan ilmu, dan juga Orang yang banyak bicara tapi sedikit ilmunya. Sedangkan Sir artinya hati nurani. Sir di sini merupakan jawaban dari pertanyaan pertama diatas.

Mari kita rangkai lagu ini secara utuh:

Cublak-cublak suweng, suwenge teng gelenter, mambu ketundhung gudhel, pak empo lera-lere, sopo ngguyu ndhelikake, Sir-sir pong dele kopong, sir-sir pong dele kopong.

Kemudian mari kita maknai secara utuh agar kita mendapatkan keutuhan dari filosofi lagu ini:

Ada sebuah tempat, di mana tempat tersebut menyimpan harta yang sangat berharga (Cublak-cublak suweng). Namun walaupun ada tempatnya, harta yang sangat berharga tersebut tercecer di mana-mana, terdapat di mana-mana (suwenge teng gelenter).

Di sini menjadi sebuah pertanyaan awal: bila ada sebuah tempat dan tempat tersebut menyimpan harta sangat berharga, sedangkan harta itu sendiri tercecer di mana-mana, terdapat di mana-mana. Tempat manakah itu? Tempat yang menyimpan harta namun hartanya terdapat di mana-mana. Lha kan aneh? Hartanya tersimpan di sebuah tempat namun harta tersebut juga berada di mana-mana.

Sang penulis lagu ini sedang membeberkan konsep ‘keberlimpahan’ menjadi sebuah lagu sederhana.

Mari kita cermati lebih lanjut. Suwenge teng gelenter yang menggambarkan bahwa harta yang sangat berharga tersebut tercecer di mana-mana, terdapat di mana-mana adalah sebuah gambaran keberlimpahan hidup. Di sekeliling kita, kanan kiri atas bawah terdapat harta tersebut. Tentu saja ini sebuah berita yang mengejutkan bagi sebagian orang yang di sini digambarkan sebagai ‘Gudhel’: Benarkah keberlimpahan hidup tidak jauh dari kita? Masak sih? Di mana tempatnya sehingga aku bisa mudah mengambilnya?

Berita tersebut memicu orang-orang bodoh, orang-orang berpengetahuan sempit (mambu ketundhung gudhel) untuk bergegas mencarinya. Mereka karena tidak dibekali pengetahuan jiwa maka walaupun banyak yang merasa menemukan harta yang mereka anggap berharga, tetap saja mereka masih merasa kurang dan selalu menengok kiri-kanan (pak empo lera-lere). Kesuksesan, materi, nama besar, jabatan, yang semua itu dianggap keberlimpahan tetap saja mengakibatkan bingung dan tidak puas. Mereka masih ‘pak empo lera-lere’. Pak empo lera-lere juga dapat menggambarkan penderitaan dari orang-orang bodoh yang merasa menemukan keberlimpahan tersebut.

Dibalik semua itu, ada orang-orang yang sudah menemukan keberlimpahan. Mereka yang sudah menemukan harta yang sangat berharga tersebut, melihat orang-orang yang selalu mengejar keberlimpahan palsu, mereka hanya tertawa saja (sopo ngguyu ndhelikake). Mereka tertawa seakan-akan menyembunyikan rahasia: eh bukan itu lho! Itu palsu! Itu hanya ilusi dunia!

Lalu yang terakhir, orang-orang bodoh ini, para Gudhel ini yang kemudian malah berkoar-koar sudah menemukan. Mereka banyak bicara, bahkan mengajarkan cara untuk menemukannya. Padahal ‘dele kopong’, dele kopong yaitu yang banyak bicara adalah orang tak berisi. Dele kopong bila dalam peribahasa Indonesia adalah Tong kosong nyaring bunyinya.

Konsep keberlimpahan hidup dalam lagu Cublak-cublak Suweng ini sangat istimewa. Orang-orang bodoh selalu mencarinya keluar dari dirinya (mambu ketundhung gudhel) sehingga ia tetap merasa bingung dalam hidup (pak empo lera-lere). Sementara orang bijaksana (sopo ngguyu ndhelikake) menyadari bahwa tempat rahasia (cublak) yang merupakan tempat menyimpan harta sangat berharga (suweng) yang sekaligus membuat harta tersebut tersebar di mana-mana (suwenge teng gelenter) ada di dalam ‘Sir‘ (kata pertama dalam kalimat sir sir pong dele kopong), Sir adalah hati nurani manusia!

Di lain daerah (diingatkan oleh sahabat saya, mas Ronggo Sutikno dari Jawa Timur), lirik terakhir ada yang berbunyi demikian:

Sir sir pong udele bodong, sir sir pong udele bodong

Lirik ini juga merupakan sebuah nasehat atau ‘jalan’ istimewa untuk menemukan Cublak itu tadi. Bagaimana caranya menemukan tempat bagi harta yang sangat berharga tersebut? Yaitu sir pong udele bodong!

Sir adalah Hati Nurani, sedangkan pong udele bodong adalah sebuah ‘sasmita’ atau gambaran tentang wujud yang tidak memakai apa-apa sehingga udel atau pusarnya kelihatan. Telanjang atau orang yang tidak memakai artibut apa-apa adalah orang sederhana, rendah hati, mengedepankan rasa dan selalu memuliakan orang lain. Yang akan menemukan ‘Cublak’ tersebut adalah orang yang polos, tidak memakai atribut, tidak memakai ego kepemilikan dan kemelekatan, dan itu bukanlah para Gudhel! Ia sekali lagi adalah para pong udele bodong, yaitu orang-orang polos, sederhana, dan bersih hatinya.

 

Selamat menyelami Cublak-cublak Suweng!