0 items in your shopping cart

No products in the cart.

MUHAMMAD ISA DAWUD, PENULIS ‘FIKTIF’

Perdebatan tentang simbol ‘segitiga dengan mata satu’ yang diyakini sebagai simbol kebangkitan Dajjal sudah lama terjadi, bahkan mungkin sejak saya belum lahir. Namun istilah-istilah seputar Dajjal, Segitiga Bermuda, bahkan hubungannya dengan UFO dengan segala misterinya kembali muncul diperbincangkan pada sekitar tahun 1995 di saat terbitnya buku yang berjudul “DIALOG DENGAN JIN MUSLIM” karya Muhammad Isa Dawud.

Setelah itu, diburulah buku lain dari Muhammad Isa Dawud bagi mereka yang memang haus akan pengetahuan tentang Dajjal dan Imam Mahdi. Buku tersebut antara lain adalah; “MENYONGSONG SANG IMAM MAHDI PENAKLUK DAJJAL” dan “DAJJAL AKAN MUNCUL DARI SEGITIGA BERMUDA.” Walaupun menurut saya, buku-buku yang lain tersebut seperti diterbitkan tergesa-gesa karena momen dari buku pertama, Dialog Dengan Jin Muslim. Atau bisa jadi bahwa buku-buku selanjutnya tersebut hanyalah pengembangan dan rangkuman dari buku pertama karena penerbit mengejar ‘momen’ dari trend buku.

 

SIAPAKAH MUHAMMAD ISA DAWUD?

Siapakah Muhammad Isa Dawud, penulis buku best seller (di Indonesia saja) tersebut? Biografinya hanya ditulis singkat di buku, yang menyatakan bahwa dia telah menulis ratusan makalah dan berbagai kajian dalam bidang agama, sastra, bahasa, sosial dan politik, yang dimuat dalam berbagai surat kabar dan majalah di Saudi Arabia dan Mesir. Seharusnya, dengan jejak penulisannya, apalagi buku-buku yang dikatakan best seller (kalau benar di negaranya) maka biografinya dan karya-karyanya akan sangat mudah dicari lewat mesin pencari internet.

Pernah mencoba mencari jejak penulisan dan biografi Isa Dawud? Saya yakin belum, dan kalaupun ada hanya satu dua, mereka yang paham literasi dan mementingkan validitas sumbernya. Sebagian besar sudah terbius dengan dalil agama yang dipakai di sela-sela penulisannya, apalagi nama Muhammad Isa Dawud yang ditonjolkan sebagai jaminan validitas sumber yang berasal dari Mesir, lahir di bagian timur Isma`iliyah, tahun 1957. Dibesarkan dan menempuh pendidikan di Kairo. Meraih gelar Lc. di bidang sastra dari Fakultas Bahasa dan Studi Timur, Cairo University.

Sebagian besar pembaca masyarakat Indonesia terbius dengan keterangan latar belakang yang membawa-bawa nama Mesir dan Cairo University, terutama masyarakat yang miskin akses informasi atau tidak dapat membedakan opini dan berita, rumor dan kebenaran, informasi pokok dan berita sensasional.

Gampangnya adalah, masih banyak dari pembaca yang tidak dapat membedakan mana buku opini dan mana buku penelitian ilmiah atau buku sejarah.

Celakanya, buku opini dari Isa Dawud dijadikan sumber referensi ceramah agama bahkan diklaim sebagai penjelasan ilmiah (padahal bukan buku penellitian) yang diyakini isinya 100% sebagai kebenaran hanya karena membawa opini yang dikemas layaknya fakta yang disesuakan dengan bagian-bagian kitab suci atau hadis nabi.

Siapakah Muhammad Isa Dawud? Bila dia sesuai dengan biografi yang tertulis, pastilah dia seorang penulis yang terkemuka di Mesir, paling tidak setara dengan penulis Mesir lainnya seperti Anis Mansour. Cobalah cari di internet biografinya, bahkan Wikipedia pun tidak memuat biografi Isa Dawud.

Masih belum puas? Buku ‘Dialog Dengan Jin Muslim’ yang dikatakan diterjemahkan dari buku aslinya yang berjudul ‘hiwar shahafiy ma’a jinni muslim’ bukunya tidak ditemukan dalam bahasa aslinya di rak buku internasional Amazon dan google book.

Paling tidak, penulis internasional yang mengeluarkan beberapa buku dan best seller, akan mudah dicari namanya ketika diketikkan di kolom pencari situs Amazon. Lha nama saya, Agung webe saja bila diketik di Amazon akan keluar buku yang ada di sana. Coba anda ketika nama penulis buku Muhammad Isa Dawud, maka anda akan mendapatkan hanya satu buku berbahasa Indonesia yang berjudul ‘Dialog Dengan Jin Muslim’, tidak ada buku lainnya.

 

MASIH BELUM PUAS, MARI KITA LACAK KEMBALI.

Apabila reputasi dari Isa Dawud seperti biografinya, yaitu sebagai Direktur Umum surat kabar harian di Saudi, sekaligus sebagai Wakil Pimpinan Redaksi untuk rubrik Pemikiran dan Kebudayaan Islam, selain masih menjabat sebagai penasihat bidang informasi khusus untuk Ketua Pusat Informasi di Makkah Al-Mukarramah, dan kegiatannya sibuk memberikan ceramah ilmiah, pemikiran dan kebudayaan, serta menerbitkan beberapa karya khususnya di Mesir, maka beberapa foto-foto wajahnya akan terpampang di google ketika namanya anda masukkan di kolom pencarian gambar.

Sebagai contoh, silahan masukkan nama penulis Paulo Coelho, Antony de Mello, atau Jiddu Krishnamurti, maka anda akan menemukan seabrek foto-foto nya yang bukan ‘hoax’. Nah, apa yang terjadi apabila anda memasukkan nama Muhammad Isa Dawud? Hanya muncul satu foto saja dan itu pun agak blur dengan kualitas seperti repro. Benarkah itu foto Isa Dawud? Atau pertanyaan tepatnya adalah, benarkah Isa Dawud ada?

 

PENULIS ANONIM.

Saya mengajak anda mengingat tentang buku yang berjudul ‘PLEDOI SASTRA –  Kontroversi cerpen Langit Makin Mendung’ yang nama penulisnya adalah ‘Kipandjikusmin’ (bila anda tidak tahu hebohnya buku ini, maka anda harus melihat sejarah literasi Indonesia agar tidak mudah dibodohi). Buku tersebut dituduh telah menghina agama Islam karena menceritakan Nabi Muhammad dengan tidak semestinya. Namun siapakah ‘Kipandjikusmin’ ini, yang tidak ada biografinya di kancah penulisan Indonesia? Inilah yang disebut sebagai penulis anonim, yaitu penulis lain yang menulis buku menggunakan nama lain dengan maksud-maksud tertentu.

Nama Muhammad Isa Dawud bisa jadi adalah anonim dan bukan dari Mesir seperti tulisan biografi singkatnya. Isi dari buku-bukunya yang memuat Dajjal, Segitiga Bermuda, UFO, konspirasi Yahudi dan simbol-simbol Dajjal merupakan tulisan umum yang beredar di internet saat itu, di saat internet masih sangat sulit diakses oleh masyarakat umum. Tulisan-tulisan itu dirangkum intinya dan disajikan dalam bentuk percakapan antara manusia dengan Jin.

 

Siapa sebenarnya Muhammad Isa Dawud ini? Sampai sekarang tetap tidak ditemukan identitas aslinya seperti juga nama ‘Kipandjikusmin’. 

Lalu tujuan pembuatan buku yang kemudian diterbitkan tersebut, sudah tentu karena mengejar ‘trend’ buku dan minat yang dicari saat itu. Perkara nama penulis dan biografi singkatnya dapat dikarang dan disesuaikan sehingga seolah-olah penulis itu nyata adanya. Siapa pula yang akan cek dan ricek ke Kairo perkara lulusan sastra dari Fakultas Bahasa dan Studi Timur, Cairo University? Alih-alih mencari tahu kebenaran adanya penulis dan karya-karya aslinya, sebagian besar pembaca kita masih belum dapat membedakan buku opini dan terbius dengan hal yang diungkapkan yang disertai dengan landasan dalil agama.

Lalu, kalau saya, apakah buku dari Muhammad Isa Dawud akan saya jadikan referensi tentang penjelasan Dajjal dan simbol-simbolnya? Tentu tidak. Apalagi kemudian kalau buku itu dijadikan rujukan utama, bagaimana bisa buku opini dijadikan sebagai rujukan utama? Siapapun dia yang menggunakan nama menjadi Muhammad Isa Dawud, tentulah orang Indonesia yang memahami kebutuhan pasar buku dan kegelisahan konsumen buku Indonesia tentang mitologi Dajjal. Bila ia sekarang telah mengeruk keuntungan dari penjualan buku itu yang sangat laris, sekarang tentu ia tertawa karena bukunya yang hanya rangkuman dari informasi internet dijadikan sebagai rujukan oleh penceramah agama.

 

Salam Cerdas!

Leave a response