0 items in your shopping cart

No products in the cart.

HIDUP MENGALIR ATAU MALAS?

Sudah banyak definisi yang dapat kita baca tentang hidup mengalir atau hidup pada saat ini (hadir utuh). Mengalir menerima apapun peristiwa yang hadir. Ada duka, ada suka, ada senang, ada sedih, ada sukses ada gagal, semua diterima apa adanya pada saat ini yang hadir. Mengalir mengikuti irama kehidupan, katanya.

Mudah? Tentu saja tidak, karena serangkaian pembenaran-pembenaran akan hadir bersama dengan apa yang dianggap hidup mengalir dan hidup pada saat ini. Dalam hal ini saya melihat beberapa teman yang tidak tepat dalam menerapkan apa yang disebutnya sebagai hidup mengalir.

Saya ambil contoh seperti ini, ada seorang teman yang tadinya bekerja. Ia menjadi kepala rumah tangga yang mencari nafkah untuk keluarganya. Suatu hari ia keluar dari pekerjaannya dan hanya berdiam diri di rumah. Ia menyebut pilihan tindakannya adalah hidup mengalir. Bagaimana ia bisa makan tanpa uang? Ia menjawab, kalau ada dinikmati dan kalau tidak ada ya jangan dicari. Apabila makanan hadir yang dinikmati. Apabila makanan tidak hadir ya dinikmati juga. Ia mengatakan menikmati kondisi saat ini. Saat ini tidak bekerja, ya ia menikmati kondisi tersebut.

Ada juga contoh dalam beribadah. Tadinya ia melakukan ibadah secara rutin. Namun tiba-tiba ia menghentikan ibadah rutinnya. Ia bilang mengalir saja. Apabila sedang mau ya melakukan dan apabila sedang tidak mau maka tidak melakukan. Ia menyebutnya kondisi tersebut adalah mengalir mengikuti apapun keputusannya saat itu.

Kondisi-kondisi di atas sangat menarik, karena ada perbedaan yang tipis antara malas dan mengalir. Bagaimana kita dapat melihat yang mana malas? Yang mana hidup mengalir? Yang mana hidup pada saat ini?

Mari sejenak kita melakukan refleksi tentang apa yang pernah kita alami, dan semua orang tentu pernah mengalami kondisi ini. Kondisinya seperti ini:

Suatu saat, pada malam sebelumnya anda sudah memutuskan bahwa pada siang itu anda akan pergi ke suatu tempat, entah ke pusat keramaian atau ke rumah teman. Kemudian ternyata siang itu sangat panas dan anda merasa agak lelah, bahkan bosan dengan diri anda sendiri. Tiba-tiba anda memutuskan membatalkan rencana pergi anda dan memilih nonton teve di rumah. Keputusan anda yang tiba-tiba berubah tersebut, anda katakan mengalir. Dan anda merasa menikmati kekinian anda nonton teve saat itu.

Contoh di atas dapat terjadi pada peristiwa apa saja. Pekerjaan, cinta, agama, kehidupan, hubungan dengan orang lain. Yaitu ketika anda mengubah keputusan anda untuk sesuatu yang anda katakan sebagai menikmati aliran kehidupan.

Pertanyaannya, apakah hal tersebut hidup mengalir? Atau malas?

Ya, yang kadang tidak kita sadari adalah kita mengubah keputusan kita hanya karena rasa enggan dan tidak adanya energi vitalitas saat itu. Kemudian kita berlindung di balik argumentasi hidup mengalir.

Saat keputusan anda tersebut hanya untuk menutupi rasa diri anda yang tidak mempunyai tenaga, lelah, menolak sesuatu, cemas, khawatir dan serangkaian rasa negatif  lainnya, maka hal tersebut adalah malas.

Hidup mengalir bukanlah keputusan yang tiba-tiba dengan serangkaian rasa negatif di atas. Hidup mengalir adalah bertindak dengan penuh energi, penuh vitalitas, penuh keceriaan dan tentu penuh perayaan.

Sekarang mari kita lihat bahwa kondisi seperti contoh teman saya yang memutuskan tidak bekerja dan hanya diam di rumah merupakan tindakan dengan penuh energi, penuh vitalitas, penuh keceriaan dan tentu penuh perayaan, atau tindakan yang tidak mempunyai tenaga, lelah, menolak sesuatu, cemas, khawatir dan serangkaian rasa negatif  lainnya?

Hal ini juga sama terhadap seseorang yang tadinya beragama dan menjadi tidak beragama. Ia menjadi tidak beragama karena menolak sesuatu dalam agama, atau karena menyadari perayaan hidup yang penuh keceriaan dan totalitas?

Hidup mengalir dan hadir penuh saat ini, bukanlah kemalasan. Bukanlah rasa menolak atau menghindari sesuatu. Karena ia mengalir dan hadir penuh maka ia penuh energi, penuh vitalitas, penuh keceriaan dan tentu penuh perayaan. Dengan kondisi seperti itu maka ia bertanggung jawab penuh terhadap hidupnya. Ia tidak akan duduk dan tidur sepanjang hari. Ia tidak akan tidak melakukan apa-apa karena hanya mengikuti rasa bosan hidup dan menghindari rutinitas yang padat.

Hidup mengalir dan hadir penuh adalah sikap hidup penuh vitalitas dan tanggung jawab. Ia tentu tidak hanya menunggu untuk hal apapun juga. Walaupun ia menyadari bahwa semua hal ada waktu dan masa hadirnya, namun ia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan yang ada setiap detik yang hadir untuk merayakan dengan tindakan-tindakan yang penuh keceriaan.

Jadi, apakah prinsip hidup mengalir anda saat ini merupakan bentuk kemalasan terhadap kehidupan atau bentuk perayaan kehidupan? Tentu saja hanya anda yang tahu!

 

Love & Blessing

1 Comment

  • Hfs sutrisno

    Nah, ini yg kadang rancu sy blm bs bedakan pak. Antara malas beribadah, pelarian saja ataukah penuh kesadaran utk tidak terikat dogma aturan belenggu agama & rutinitasnya. Salam

Leave a response