0 items in your shopping cart

No products in the cart.

DAPATKAH KITA MENJALANI KEHIDUPAN TANPA KEYAKINAN AKAN TUHAN?

Pada saat lahir, bayi belum mempunyai belief untuk kehidupannya. Walaupun ia sudah membawa informasi lama tentang kehidupan lamanya, namun informasi dasar tersebut belum menjadi belief.

Informasi dan belief adalah dua hal yang berbeda.

Kemudian belief ditanamkan oleh orang-orang yang mengelilingi dalam pertumbuhan sang bayi. Bila kita sadar akan hal ini maka kita menyadari bahwa struktur belief dapat dipelajari. Apabila struktur belief dapat dipelajari maka belief dapat dihancurkan, digantikan, dan diberdayakan.

Untuk apa belief dihancurkan? Agar kita sadar bahwa yang membentuk kita menjadi seperti saat ini adalah belief kita.

‘Asosiasi belief’ merupakan kumpulan belief yang akhirnya menjadi automatic guidance system bagi kehidupan seseorang. Dua belief yang ada diantaranya adalah Tuhan dan Agama. Apabila seorang bayi dibiarkan hidup seorang diri, apakah dia akan mengenal Tuhan dan Agama? Pada awalnya dia tentu tidak akan mengenal Tuhan dan Agama, namun informasi dasar kehidupannya akan mencari hal tersebut. Kenapa?

Setelah manusia bernafas, ia memerlukan belief untuk melanjutkan kehidupan!

Namun banyak orang yang menganggap bahwa belief adalah kebenaran yang harus disandangkan. Artinya bahwa mereka menganggap atau menciptakan belief sebagai Tuhan itu sendiri.

Bila kita sadar bahwa Tuhan dan Agama adalah sebuah belief, maka tentu saja kita dapat menggantinya dengan belief kita sendiri. Disini kita menyadari bahwa belief bukanlah kebenaran mutlak dan bukanlah Tuhan itu sendiri.

 

Beberapa Trainer yang berbicara tentang ‘change paradigm’ atau tentang menggeser belief untuk dapat menjadi kaya, mengganti belief sengsara menjadi belief berlimpah, kadang tidak menyadari tentang struktur belief-nya sendiri. Apakah mereka  hanya menjadi burung beo atas pengetahuan yang hanya kembali disampaikannya?

Mau bukti? Sentuh belief-nya tentang agama dan tuhan, maka argumennya adalah: bagimu agamamu dan bagiku agamaku.

Beberapa orang dapat mengenali struktur belief-nya tentang Tuhan dan Agama, bahkan mereka dapat menghancurkannya dan membangunnya kembali dengan yang lebih memberdayakan bagi hidupnya. Namun mereka terjebak kembali dengan belief yang semakin halus! Apa itu? Rasa individualistis!

Belief yang meyakini bahwa saya orang bebas, saya orang merdeka, saya orang yang tidak butuh orang lain dalam bergerak, saya adalah orang yang dapat melakukan tindakan tanpa orang lain adalah sebuah belief yang merupakan tembok keras bagi kehidupannya.

Sekali lagi apabila anda benar-benar mengenali struktur belief anda, maka anda akan dengan lentur dapat bekerjasama dengan orang lain, dapat bergandengan tangan dengan orang lain, dan dapat menerima orang lain dengan kondisi apapun juga.

Namun, tentu saja harus kita ingat bersama bahwa apapun tindakan yang kita lakukan akan sangat terkait dengan hukum alam semesta yang ada. Artinya walaupun anda menyadari struktur belief dan menjadi lentur, tentu saja keputusan yang anda ambil dalam langkah-langkah anda akan mengacu kepada pertumbuhan dan pemberdayaan orang lain.

Ada seorang sahabat yang berkata, “Pak, saya ingin tetap menjadi jiwa yang merdeka, tidak terikat, dan tetap melangkah dimana saya suka melangkah”

Mari kita bercermin, saat pertanyaan itu muncul, bagian belief mana yang tersentuh?

Ada bagian belief yang meyakini tentang arti sebuah kebebasan bagi anda. Dan saat itu sedang tersentuh, sedang digedor-gedor, dan ternyata anda takut merobohkannya! Anda sedang menganggap bahwa saat ini anda adalah bebas merdeka dan anda takut saat belief tersebut disinggung. Dan lebih hebatnya lagi anda melakukan resistensi ketika bagian belief tersebut akan dirobohkan!

Bagi saya, pertanyaan yang sangat bodoh yang hanya menggambarkan bagaimana kuatnya belief tentang kebebasan, adalah: “apakah kami tetap menjadi jiwa yang merdeka?”

Tuhan dan Agama sudah anda terjemahkan menjadi apa yang anda anggap bebas merdeka. Kebebasan dan kemerdekaan itulah yang saat ini menjadi Tuhan dan Agama anda. Bahkan group inipun akan menjadi palu yang siap menghancurkan beliefs anda. Bila anda tidak siap, tentu saja anda akan merasa gerah dan panas! Segera introspeksi, whats happened with you? Apa yang menyebabkan dirimu tidak seimbang?

Ternyata kita sadar, kita bisa hidup tanpa Tuhan dan tanpa Agama, namun kita tetap saja sedang berusaha mempertahankan beliefs yang ada, walaupun itu tanpa kita sadari saking halusnya, yaitu apa yang kita anggap tentang kehidupan kita sendiri!

 

love & Blessing

Leave a response