0 items in your shopping cart

No products in the cart.

MUNGKINKAH IMAN ITU DELUSI?

Tulisan ini saya ambil dari buku saya, TUHAN, APAKAH AKU MENCITAIMU.

Yang ingin membaca semua tentang ini, dapat membaca buku saya tersebut.

 

Sebuah desa di Portugis bernama desa Fatimah. Desa ini menarik karena adanya legenda patung Bunda Maria dan penamaan desa dengan nama Fatimah yang serupa dengan nama Islam. Konon, dalam versi legenda masyarakat desa itu, pada abad 12 yaitu jaman Islam menguasai wilayah Portugis, ada seorang putri dari bangsa Moor bernama Fatimah yang kecantikannya tak tertandingi di seluruh desa. Fatimah yang beranjak dewasa akhirnya tertarik dengan ajaran Katolik yang dianut masyarakat asli sebelum Islam masuk. Akhirnya di kemudian hari setelah penguasaan Islam lepas di daerah tersebut dan penduduk asli menjalankan roda perekonomian desa kembali, desa itu sampai kini dinamakan desa Fatimah.

Walaupun nama desanya Islam, yaitu Fatimah (seperti nama putri dari Nabi Muhammad), namun desa itu terkenal sebagai desa yang bersejarah bagi Katolik dikarenakan ada gereja klasik yang tua dan mempunyai cerita unik tentang penampakan Bunda Maria.

Lalu apa hubungannya cerita desa Fatimah dengan tulisan yang berjudul “Tuhan, apakah aku mencintaimu?” ya, hubungannya adalah dengan puasa yang sangat terkait dilakukan oleh tiga anak kecil yang bernama Lucia dos Santos berumur 10 tahun, sepupunya bernama Fransisco Marto berumur 9 tahun dan Jacinta Marto berumur 7 tahun.

Lucia, Fransisco dan Jacinta adalah anak-anak yang  hidup dalam masa perang. Mereka menjadi anak-anak yang penuh perjuangan secara batin karena masa perang merupakan masa sulit dalam segala hal, termasuk pangan. Dalam masa itu anak-anak menjadi sering berpuasa dan berdoa, memohon agar perang segera dapat dihentikan dan masyarakat menikmati kehidupan yang adil dan makmur.

Puasa yang rutin dijalankannya dan doa Maria serta doa Bapa Kami yang menjadi ‘mantra suci’ dan selalu mengalir dari mulut ketiga anak itu menghantarkan mereka dalam penampakan Bunda Maria pada 13 Mei 1917. Penampakan itu membawa cerita panjang yang akhirnya membawa banyak orang (menurut cerita rakyat sampai 70 ribu orang) meyakini ketiga anak ini dan juga mengalami penglihatan dari penampakan Bunda Maria. Akhirnya sebuah gereja dibangun pada tahun 1928 untuk memperingati peristiwa penampakan tersebut dan menjadi gereja bersejarah sampai sekarang yang menjadi salah satu tujuan wisata dunia di daerah Portugal ini.

Apakah yang dialami oleh ketiga anak tersebut merupakan sebuah kebenaran ataukah sebuah delusi?

Apabila saya menuliskan tentang puasa seperti pada awal-awal tulisan ini yang sangat memungkinkan sebuah halusinasi tercipta, maka sangat mungkin sekali bahwa ketiga anak ini awalnya mengalami halusinasi. Kemudian karena halusinasi tersebut berulang kali terjadi, maka ia menjadi delusi, yaitu kebenaran akan sebuah penglihatan yang dia yakini sebenar-benarnya.

Seperti di tulisan sebelumnya yang saya tutup dengan pertanyaan, “Apakah Musa mengalami halusinasi di bukit Sinai?” Tentu saja apabila Anda memandang Musa sebagai Nabi yang tidak mungkin stress apalagi depresi, maka Anda akan membantah bahwa Musa mengalami halusinasi. Apalagi dihubungkan dengan cerita bahwa Musa dapat mengalahkan para penyihir Mesir saat itu dan dapat membelah lautan, maka kalau Musa mengalami halusinasi ia tidak akan dapat melakukan hal-hal menakjubkan dalam mengalahkan musuh-musuhnya.

Bagaimana apabila cerita Musa ini seperti cerita tiga anak dari Portugal di atas? Bahwa ternyata di desa Fatimah dulunya tidak ada anak yang bernama Fatimah? Dan tiga anak yang mengalami penampakan Bunda Maria (Lucia, Fransisco dan Jacinta) tidak benar-benar mengalami penampakan tersebut atau cerita terlalu dibesar-besarkan (hiperbola) dan cerita itu hanya dilahirkan agar dapat menunjang misteri “Miracle of The Sun” – Keajaiban Matahari yang terjadi di desa itu tahun 1917.

Mitos memang banyak menyebar dan lahir di semua tempat di dunia ini. Apabila sebuah daerah meninggalkan mitos dan ternyata makna di balik mitos itu sangat memberdayakan sehingga dimasukkan dalam sebuah cerita di kitab yang dikenal suci, apakah mitos tersebut dapat dipahami sebagai mitos atau malah kemudian dianggap sebagai sejarah? Saya katakan dianggap sebagai sejarah karena dianggap benar-benar terjadi pada masa yang diceritakan.

Dalam Kitab Suci apapun juga, sudah tentu ada mitos di sana disamping ada sejarah, ada petunjuk dan juga ada hukum-hukum. Namun sayang apabila pembaca kitab suci tidak dapat membedakan mana yang mitos dan mana yang sejarah sehingga ia beranggappan bahwa apapun yang diceritakan di dalam kitab suci merupakan kebenaran mutlak yang pasti pernah terjadi di tahun cerita tersebut ada.

Apakah menganggap bahwa semua cerita di kitab suci sebagai cerita kebenaran merupakan sebuah pengalaman delusi? Apa ciri delusi? Cirinya adalah Anda tidak akan mau melihat kemungkinan yang ada dan tetap akan meyakini bahwa hal tersebut sebagai kebenaran mutlak yang tak terbantahkan.

Kalau demikian apakah Iman adalah delusi?

 

Love & Blessing