0 items in your shopping cart

No products in the cart.

SIAPA TUHAN – 2

Tan Keno Kinoyo Ngopo’, filosofi inilah yang mendasari semua artikel tentang Tuhan yang saya tulis. Sesuatu yang tidak bisa diandaikan dengan apapun juga. Kalimat; ‘Kinoyo Ngopo’ juga dapat berarti tidak dapat diapa-apakan juga. Kalau memang tidak dapat diandaikan dan tidak dapat diapa-apakan juga mengapa saya tulis? Toh artinya tidak dapat diandaikan dan tidak dapat diapa-apakan sama dengan tidak dapat ditulis? Sangat betul, dan untuk itulah saya tidak menulis tentang deskripsi Tuhan itu sendiri.

Nah, apabila anda mengatakan seperti paragraf di atas, seharusnya pertanyaannya bukan hanya untuk tulisan ini, namun untuk semua tulisan (walaupun itu berbentuk kitab dan diyakini suci). Pertanyaannya adalah, mengapa Tuhan dideskripsikan?

Saya sangat setuju dan juga akan mendukung bahwa keyakinan kita pertama dalam hidup (keyakinan dapat juga dibaca sebagai iman) adalah yakin terhadap Tuhan. Yuk, pelan-pelan. Keyakinan ini adalah utama karena akan mendasari semua perilaku, sikap dan tanggung jawab terhadap kehidupan. Dan keyakinan ini tidak perlu dibuktikan adanya, nyatanya, karena setiap manusia mengalaminya!

Lho mengalaminya? Mengalami seperti apa? Artikel pertama dibilang bahwa mengalami Tuhan adalah delusi, lha kok sekarang dibilang bahwa semua manusia mengalaminya? Yes, tepat sekali, bahwa yang dialami bukanlah sosok, penglihatan, kehadiran atau pertemuan dengan apa yang disebut sebagai Tuhan. Yang dialami adalah ‘Tan Keno Kinoyo Ngopo’.

Saya mengakhiri artikel pertama dengan paragraf ini;

Membiarkan ketidak tahuan kita sama-sama tidak ingin dipuaskan oleh logika dan membiarkan apa yang saat ini kita sebut sebagai Tuhan tetap menjadi misteri itu sendiri, maka tentu saja masing-masing dari kita tidak akan membuktikan apapun karena Tuhan memang tidak dapat dibuktikan.

Siapa Tuhan? Saya memilih menjawabnya, tidak tahu.

Kita semua mengalami hal ini, yaitu ketidaktahuan kita tentang sesuatu yang ada di balik kehidupan ini. Ada misteri yang sama-sama kita alami, namun tidak dapat terpecahkan. Tanpa kita menghadirkannya, hal tersebut sudah ada dan nyata adanya. Dan tanpa dogma, tanpa doktrin, tanpa perintah, tanpa anjuran, ketidaktahuan kita merupakan kenyataan yang kita alami.

Kita sama-sama tidak tahu. Kita sama-sama mengalami kejadian-kejadian tak terduga yang merupakan misteri kehidupan. Apabila kita tetap dalam keadaan menerima kehidupan sebagaimana adanya, maka hal itu yang dikatakan berserah diri total.

Manusia jelas tidak ingin menerima kenyataan tentang misteri Tuhan. Tidak mau menerima kenyataan bahwa Tuhan tidak kita ketahui bersama, bahwa kita sama-sama tidak tahu tentang Tuhan. Mengapa tidak mau menerima hal tersebut? Jawabannya adalah karena rasa takut dalam kehidupan.

Manusia ingin aman, ingin nyaman, ingin sehat, ingin selamat, ingin dipenuhi rejekinya, tidak kekurangan, dan untuk memenuhi semua hal tersebut manusia ingin ada yang menjaminnya. Manusia ingin ada yang menjaganya. Manusia ingin ada yang memeliharanya. Karena keinginan manusia untuk melindungi dari rasa takut itulah ia menciptakan Tuhan yang nyata dan mempunyai sifat-sifat yang mengakomodir semua rasa takutnya.

Akhinya logika manusia menolak bahwa kita sama-sama tidak tahu tentang Tuhan. Logika manusia menolak bahwa Tuhan itu Maha Misteri. Logika manusia hanya menerima Tuhan yang menguntungkan dirinya. Di sinilah perpecahan, perdebatan, pertikaian dan permusuhan di mulai. Masing-masing kelompok melahirkan logikanya sendiri tentang Tuhan yang ia yakini hanya menolong kelompoknya. Bahkan satu kelompok dapat meminta kepada Tuhannya untuk menghancurkan kelompok lain yang ia anggap musuh.

Tuhan dilahirkan hanya untuk membantunya memenuhi ego, dari ego individu, ego kelompok, ego politik dan kekuasaan.

Di paragraf awal saya tadi menulis; Keyakinan ini adalah utama karena akan mendasari semua perilaku, sikap dan tanggung jawab terhadap kehidupan. Sikap saling menyalahkan dan merasa benar, juga sikap memaksa orang lain agar meyakini Tuhan seperti pikirannya, terlebih lagi menimbulkan perilaku menghakimi sendiri atas Tuhan yang bebeda, merupakan sikap dan perilaku yang disebabkan karena Tuhan sudah diturunkan menjadi sebuah persepsi kelompoknya dan mempunyai sifat-sifat tertentu. Hal ini merupakan bahaya hypnosis terbesar. Mengapa saya katakan bahaya hypnosis terbesar? Karena kalimat yang mengandung frasa hypnosis seperti, “Tuhan telah memerintahkan” merupakan kalimat yang wajib dilakukan tanpa argumentasi apapun juga. Kalau Tuhan kelompok A memerintahkan membunuh kelompok B (karena kelompok B sesat menurut kelompok A) dan Tuhan kelompok B memerintahkan membunuh kelompok A (karena kelompok A sesat menurut kelompok B), maka apa yang terjadi? Tentu saja pertumpahan darah karena perintah Tuhan.

Ini yang saya sebut sebagai sikap, perilaku dan tanggung jawab. Karena frasa ‘perintah Tuhan’ dapat menggerakkan sikap dan perilaku tertentu. Kemudian manusia menyerahkan tanggung jawab atas hasil sikap dan perilaku tersebut kepada Tuhan karena ia menganggap hanya melaksakan perintah tuhan.

Apabila Tuhan sebagai misteri terbesar yang tidak pernah terpecahkan dan Tuhan sebagai sesuatu yang sama-sama tidak kita ketahui, maka yang disebut sebagai ‘perintah Tuhan’ menjadi tidak ada. Tuhan tidak pernah memberikan perintah apapun juga karena yang bisa memberikan perintah tentu saja hanya sifat-sifat logis manusia. Tuhan tidak pernah menuliskan bentuk tulisan apapun juga. Tuhan juga tidak mempunyai kata-kata yang bisa dirangkainya karena ia bukan bahasa yang terdapat di dalam pikiran manusia. Dan apa yang kita sebuh sebagai ‘adzab Tuhan’ juga menjadi tidak ada.

Sekali lagi, bahwa perintah, kata-kata dan tulisan yang diyakini sebagai berasal dari Tuhan adalah bentuk pikiran logis manusia yang ditimbulkan oleh rasa takut dalam kehidupan, sehingga ia memunculkan jawaban-jawaban dari dalam dirinya sendiri.

Lalu kitab suci itu apa kalau tidak berasal dari Tuhan langsung? Saya tidak membahas kitab suci di artikel ini, karena tentu kita perlu pembicaraan yang panjang sebelum sampai kepada apa yang kita kenal sekarang sebagai kitab suci.

Kalau Tuhan sebagai misteri dan tidak ada satupun manusia yang tahu, lalu kita pun sama-sama tidak tahu, bagaimana kita akan berbuat baik dan beribadah? Kalau Tuhan tidak pernah memberi perintah untuk berbuat baik, maka boleh dong kita berbuat jahat? Lihatlah betapa pikiran logis kita menggoda untuk hal-hal yang menjadikan kita sebagai manusia yang tidak bertanggung jawab. Apakah kita berbuat baik hanya karena adanya perintah Tuhan? Apakah kita beribadah hanya karena adanya perinntah Tuhan? Kalau perbuatan kita hanya didasari atas perintah Tuhan, maka seperti yang saya tulis di atas, kita pun dapat digerakkan untuk memusuhi, menghindari, tidak berteman dan bahkan menyerang terhadap sesuatu karena perintah Tuhan yang sama.

Berbuat baiklah karena tanggung jawab kita kepada kehidupan kita. Beribadahlah karena tanggung jawab kita kepada kehidupan kita. Bertanggung jawab penuh terhadap kehidupan kita sendiri.

—————————————

Apabila anda ingin mengikuti terus serial pembelajaran SIAPA TUHAN, silahkan masuk ke group whatsapp dengan kirim pesan ke 0856 4042 2939 atau 0877 7450 8445 dengan pesan: “saya ingin diskusi artikel”

Love & Blessing

4 Comments

  • SIAPA TUHAN, 'SEBUAH UNDANGAN' – Soul Journey Indonesia
    November 26, 2018 - 3:26 pm

  • Fiqha

    Amaaaaazingggg

  • Robby Irmawan

    Tuhan tidak pernah munulis kitab suci yang berbentuk buku…

  • Anonymous

    Terima kasih pak

Leave a response