0 items in your shopping cart

No products in the cart.

SIAPA TUHAN – 1

Sebetulnya judul di atas kurang tepat, tetapi saya belum menemukan judul yang tepat sehingga judul ‘Siapa Tuhan’ saya pakai untuk artikel ini. Mengapa saya katakan judulnya tidak tepat? Ya, apabila pertanyaan siapa Tuhan ditanyakan, maka akan muncul jawaban yang banyak sesuai dengan nama-nama Tuhan yang diyakininya. Atau bahkan akan hadir berpuluh-puluh dalil pendukung dari masing-masing kitab suci yang diyakininya. Kemudian kurang lebih isi dari dalil tentang Tuhan yang mengenalkan dirinya adalah pengakuan Tuhan sendiri yang berkali-kali menyatakan di sana, bahwa ‘Akulah Tuhanmu.’

Saya tidak akan berpolemik tentang anda akan memanggil Tuhan dengan sebutan dan nama apa. Itu adalah hak anda. Namun bila anda ngotot bahwa panggilan Tuhan yang benar hanyalah panggilan dari tradisi anda dan yang lain salah, maka satu pertanyaan kecil untuk anda: “Apakah Tuhan pernah mengenalkan dirinya langsung kepada anda dengan menyebutkan namanya siapa?” Tentu tidak bukan? Anda mengenal dan meyakini nama tersebut dari kitab agama anda. Dan, dari awal anda sudah dipaksa untuk meyakininya. Maaf kalau saya memakai istilah dipaksa, karena anda tidak punya kebebasan untuk menolak. Apabila menolak berarti anda keluar dari keyakinan beragama anda. Itulah iman.

Jadi perkara anda tahu atau tidak, paham atau tidak, merasakan atau tidak, itu urusan nanti. Yang penting aturan pertama adalah beriman terhadap nama Tuhan yang diyakini dalam tradisi agama yang anda anut.

Lalu selanjutnya anda hanya dituntun untuk mengikuti segala daftar yang menjelaskan tentang Tuhan. Sifat Tuhan, apa yang disukai dan tidak disukai Tuhan, nama-nama lain Tuhan, peran Tuhan, apa yang akan diberikan sebagai hadiah dan hukuman dari Tuhan. Semua hal itu sudah siap tersedia tinggal anda baca. “Ready for use” untuk anda semua.

Sekali lagi, hal itu tidak salah sepanjang anda tidak memaksa orang lain untuk meyakini apa yang anda yakini.

Di artikel ini saya hanya memberikan cara pandang saya. Saya tidak meminta anda untuk setuju dengan tulisan-tulisan saya. Kita bisa berdiskusi dan saling memberikan cara pandang (sharing), namun bukan saling menyalahkan dan memaksa mana yang paling benar. Ketika anda mengungkapan dalil-dalil yang menyatakan pandangan anda paling benar, maka yang terjadi bukanlah berbagi cara pandang, namun berdebat dengan urat. Dan ketika anda sudah buta dengan keyakinan dalil anda yang paling benar, maka orang lain dengan cara pandang apapun juga akan anda lihat salah.

Baiklah, saya akan memulai dengan kata Tuhan.

Filosofi Jawa bagi saya sangat memadai, yaitu ‘Tan Keno Kinoyo Ngopo’ (Tidak bisa diandaikan dengan apapun juga). Termasuk sifat, peran dan tindakan Tuhan atau bahkan tempat Tuhan itu sendiri. Kita semua tidak ada yang tahu. Dia ada atau tidak, tidak ada satupun yang tahu. Ada yang memaksa kepada orang lain untuk yakin adanya Tuhan seperti keyakinannya hanya karena keterangan yang ia baca.

‘Tan Keno Kinoyo Ngopo’ ini bukan tidak percaya adanya Tuhan. Dalam hal ini, ada satu misteri besar yang melampaui pikiran manusia manapun juga. Alam semesta bergerak, kehidupan bergulir, setiap manusia menerima rejekinya sendiri-sendiri. Semua hal tersebut berjalan atas sebuah misteri yang tidak kita ketahui bersama.

Siapa yang menggerakkan semua ini? Tentu saja ada sesuatu yang melampaui pikiran dan kekuatan manusia itu sendiri. Apa itu? Tidak tahu.

Kemudian sesuatu yang melampaui pikiran dan kekuatan manusia itu ada di mana? Bersemayam di mana? Tidak tahu.

Ketidak tahuan inilah yang kemudian disimbolkan dengan sebutan Tuhan. Posisinya sebagai misteri yang tidak diketahui telah menempatkannya sebagai sesuatu yang Maha Besar. Namun sayang manusia menurunkannya di tingkat pikiran yang dapat digapai secara logika. Namun ini juga tidak sepenuhnya salah, karena banyak manusia yang ingin bukti, banyak manusia yang ingin dapat mengetahuinya. Dari sinilah sifat-sifat Tuhan muncul, peran dan tugas Tuhan muncul.

Bagi saya, mengapa Tuhan harus punya sifat? Mengapa muncul peran dan tugas Tuhan yang seperti hukum dagang? Apakah kita tidak dapat membiarkan Tuhan menjadi misteri terbesar dalam kehidupan ini? Apabila Tuhan Maha Besar, maka tidak satupun manusia yang dapat mengetahui sifat-sifat Tuhan. Ia tak terjangkau oleh pikiran, sedangkan sifat berada dalam pikiran.

Tuhan yang diturunkan dalam pikiran akan menjadi berbeda-beda dan jumlahnya sangat banyak, sebanyak pikiran setiap manusia. Sifat yang disandangkan oleh kelompok tertentu akan berbeda dengan sifat yang disandangkan oleh kelompok lainnya. Nama yang disandangkan oleh kelompok tertentu akan berbeda dengan nama yang disandangkan oleh kelompok lainnya. Dan akan terjadi pengakuan paling benar dari Tuhan yang diturunkan dalam pikiran.

Saya lebih nyaman menyebut Tuhan sebagai Sang Sumber. Ia sumber kehidupan. Ia sumber segala hal di alam raya ini. Karena ia sumber, maka kita tidak akan pernah tahu ia siapa, sifatnya apa, tugasnya apa dan ada di mana. Ia adalah misteri abadi kehidupan.

Saya juga mengatakan bahwa Tuhan itu tidak nyata. Mengapa tidak nyata? Karena ia adalah misteri itu sendiri yang tak akan mampu dijangkau oleh pikiran. Dan hanya sesuatu yang dapat dijangkau oleh pikiran yang disebut sebagai nyata. Bila anda mengatakan Tuhan itu nyata, maka jangan-jangan Tuhan yang anda maksud adalah bayangan di pikiran anda sendiri.

Ada yang ingin membuktikan bahwa Tuhan itu nyata. Permintaan saya sederhana, yaitu hadirkan Tuhanmu di lapangan dan apakah semua orang dapat melihat kenyataan itu? Apabila yang dapat melihat, merasakan atau bahkan menyentuh secara  nyata hanyalah anda, maka jelas, hal tersebut adalah bayangan di pikiran anda sendiri.

Ada juga yang memberikan syarat harus menempuh tirakat, puasa, kurangi tidur dan membaca mantra sekian kali. Kalau hal itu yang anda lakukan, maka jelas bahwa bentuk laku tirakat seperti itu membangun sebuah delusi di pikiran. Dan akhirnya Tuhan yang muncul dan hadir secara nyata di depan anda adalah Tuhan delusi anda sendiri.

Sederhananya demikian, bahwa saya dapat menghadirkan secangkir kopi kepada anda tanpa anda harus yakin terlebih dulu bahwa secangkir kopi itu ada. Apabila ada syarat di muka bahwa anda harus yakin terlebih dulu bahwa secangkir kopi itu ada, maka tindakan tersebut sedang membangun ilusi yang nantinya menjadi delusi.

Kita sama-sama tidak dapat menghadirkannya, maka biarkan ia tetap menjadi misteri. Biarkan ia tak tersentuh dan tak termaknai oleh apapun. Biarkan ia sebagai sumber kehidupan yang ada, bukan yang nyata.

Membiarkan ketidak tahuan kita sama-sama tidak ingin dipuaskan oleh logika dan membiarkan apa yang saat ini kita sebut sebagai Tuhan tetap menjadi misteri itu sendiri, maka tentu saja masing-masing dari kita tidak akan membuktikan apapun karena Tuhan memang tidak dapat dibuktikan.

Siapa Tuhan? Saya memilih menjawabnya, tidak tahu.

——————————————————————-

Apabila anda ingin mengikuti terus serial pembelajaran SIAPA TUHAN, silahkan masuk ke group whatsapp dengan kirim pesan ke 0856 4042 2939 atau 0877 7450 8445 dengan pesan: “saya ingin diskusi artikel”

13 Comments

  • Risal

    Siip

  • Ermanita

    Tuhan ilusi

  • hadi sutikno

    ini benar2 keren bapak,mungkin ini yg saya butuhkan selama ini

    • souljourney

      semoga bermanfaat mas

  • Anonymous

    Ketidak Tahuan disimbolkan dengan sebutan Tuhan, terima kasih..

  • aris

    Ketidak Tahuan disebut dengan Tuhan, terima kasih..

  • Parwata

    Tidak Tahu..

  • Robby Irmawan

    Tuhan adalah jawaban atas ketidaktahuan manusia

  • ANROHA

    TAN KENO KINIRO, TAN KENO KINOYO NGOPO, bukan ini, bukan itu, bukan suatu yg baru

  • Payo

    Setuju…pak

  • Anonymous

    Kita sama-sama tidak dapat menghadirkannya, maka biarkan ia tetap menjadi misteri. Biarkan ia tak tersentuh dan tak termaknai oleh apapun. Biarkan ia sebagai sumber kehidupan yang ada, bukan yang nyata.

  • Komang Suta Wirawan

    terimakasih atas perjalanan barunya Bapak…

  • Amri Syahputra Marpaung

    Biarlah Tuhan tetap menjadi misteri. Sebab sampai saat ini belum ada yang melihatNYA secara langsung.
    Terima kasih pencerahannya Pak.

Leave a response