0 items in your shopping cart

No products in the cart.

TANAH YANG DIJANJIKAN

Apakah tanah yang dijanjikan itu?

Satu kesalahan terbesar Musa adalah ia menggunakan ‘mitos’ tentang tanah yang dijanjikan untuk menggerakkan penduduk yang saat itu sedang mengalami perbudakan untuk keluar dan berani pergi dari kondisi perbudakannya.

Mungkin ini pilihan terakhir Musa saat semua cara sudah ia lakukan dan tidak memberikan hasil untuk membuat orang-orang yang tadinya menyerah menjadi budak untuk bebas dan merasakan kemerdekaan jiwanya.

Saya mengatakan bahwa tanah yang dijanjikan Tuhan ini adalah Mitos. Mengapa Mitos?

Cobalah kita lihat bahwa bila Tuhan menjanjikan sesuatu, maka Tuhan diartikan sebagai sosok seperti Raja yang duduk di sebuah singgasana dan memberikan kepada manusia sebuah janji.

Lagi pula Tuhan mana yang berjanji tapi janjinya nggak jelas?

Atau janjinya ternyata Tanah yang ditafsirkan sebagai tanah yang dijanjikan sudah di tempati orang lain? Lalu karena kondisi tersebut maka Tuhan mana yang memerintahkan untuk saling usir, saling perang,, dan saling membunuh hanya untuk tanah tersebut?

Sudah saatnya kita menafsirkan lagi tentang kalimat: ‘tanah  yang dijanjikan’

Mitos tentang tanah yang dijanjikan ini pertama kali muncul berdasarkan Kitab Ibrani, kepada Bani Israel. Janji ini pertama kali dibuat kepada Abraham (Perjanjian 15:18-21:NIV).

Kemudian sekali lagi kepada anak dia Ishaq, dan anak laki-laki Ishaq, Yakub (Perjanjian 28:13:NIV), cucu Abraham, dan sampailah pada sebuah peristiwa yang Legendaris, yaitu EXODUS besar-besaran oleh Musa.

Bila dulu Ibrahim sengaja menciptakan mitos tersebut untuk membangkitkan motivasi terdalam agar masyarakat bangkit dari perbudakan atas dirinya sendiri, maka hal tersebut harus dimaknai kembali. Mengapa kita harus memaknai kembali mitos ini? Ya, jelas sekali bahwa Tuhan mana yang memberikan janji namun nggak jelas? dan Tuhan mana yang memberikan janji yang salah. Saya katakan salah karena ternyata tanah tersebut sudah berpenduduk dan harus saling usir dan berebut atas tafsir tanah  yang dijanjikan itu.

Pemaknaan atas Tuhan juga harus diperbaiki. Tuhan yang digambarkan sebagai sosok sehingga bisa berjanji layaknya seorang Raja yang menguasai dan duduk di singgasana dengan baju kebesarannya, mau tidak mau, suka tidak suka, hal seperti ini hanya terjadi di alam dongeng Cinderella.

Manusia perlu mitos, mengapa? Karena manusia hidup di alam pikiran yang berupa gambar-gambar abstrak, yaitu mitologi. Mitos dapat menggerakkan manusia yang masih dalam perbudakan, baik diperbudak oleh pikirannya sendiri maupun diperbudak oleh pikiran orang lain.

Ibrahim menyadari hal ini, maka dia mulai membuat mitos tentang tanah  yang dijanjikan. Untuk apa? Agar manusia dapat melepaskan diri dari perbudakan.

Lalu Musa menggunakan mitos ini kembali dan berhasil mencatat sebuah peristiwa sejarah yang legendaris! Namun Musa bagi saya melakukan kesalahan, yaitu ‘bangsa budak’ adalah bangsa yang belum dapat memaknai mitos sebagai sebagai sebuah pelajaran kehidupan. Belum dapat menggunakan mitologi sebagai sarana menyelami misteri hidup.

Bila ‘tanah yang dijanjikan’ ini hanyalah sebuah mitos, maka apakah kita tidak akan percaya lagi kepada kitab suci?

Hal yang paling penting yang harus kita selami kembali adalah, ‘mungkinkah  yang namanya Tuhan memberikan sebuah janji yang tidak jelas?’

dan ‘Mungkinkah Tuhan memberikan janji untuk kemudian diperintahkan merebut dengan saling perang?’

Bila Tuhan bukan kita maknai sebagai sebuah sosok, namun sebuah ‘kesatuan‘ di alam raya ini, maka kita akan dengan mudah memahami cerita-cerita mitologi sebagai jembatan untuk menyelami kehidupan.

Apakah mitos ‘Tanah yang dijanjikan’  itu masih ada sampai sekarang? Ya, ada, yaitu untuk membongkar perbudakan pikiran (tanah) kita sendiri menuju kepada manusia yang ‘joyful’ (dijanjikan), manusia bebas yang ceria dan penuh cinta kasih.

Mari kita menuju kepada ‘tanah yang dijanjikan’ tersebut!

 

love & Blessing

Leave a response