0 items in your shopping cart

No products in the cart.

UNDANGAN PESTA SANG RAJA

Sebuah kerajaan yang akan mengadakan perayaan kegembiraan karena desa-desa sekelilingnya berhasil panen tanpa kegagalan, telah menyebarkan undangan pesta ke semua desa, baik di dalam otoritas kerajaan maupun desa-desa dari kerajaan tetangga.

Undangan itu menyebar dengan disambut meriah dan keinginan untuk ikut merayakan pesta panen besar kerajaan. Kerajaan sendiri telah mempersiapkan semua hal untuk menyambut warganya berpesta. Ada musik, minuman anggur, makanan melimpah dan tarian-tarian pengiring pesta. Para undangan yang memutuskan hadir dari berbagai desa juga telah mempersiapkan diri bahwa mereka akan hadir di suatu pesta besar.

Ya, pada hari yang telah ditentukan berlangsungnya pesta, terlihat berbondong-bondong warga desa yang sangat antusias menuju ke aula besar kerajaan. Dari jauh sebelum sampai, mereka sudah menari dan menunjukkan suka cita perayaan pesta yang akan mereka nikmati.

Di aula kerajaan hari itu, ada musik yang mengiringi, ada makanan berlimpah, ada anggur yang nikmat dan ada tarian panen warga desa. Hampir semua warga desa yang hadir telah menyadari bahwa mereka sampai ke kerajaan untuk menikmati pesta. Namanya menikmati pesta, mereka pasti ikut menari, ikut bernyanyi, ikut makan bersama dan ikut dalam suasana pesta yang meriah.

Namun, di ujung ruang pesta, terlihat seseorang yang diam dengan wajah yang datar. Ia hanya memperhatikan tingkah warga desa yang menikmati pesta dengan senyum kecutnya. Beberapa kali dari mulutnya terdengar lirih nada cemooh, “Huh, pesta kayak gini aja seneng bukan main. Aku aja bisa kalo hanya bikin pesta ginian. Dasar euphoria!”

Ia mulai menghampiri orang yang berhenti karena capek menari. Entah apa yang diobrolkannya, yang jelas orang yang berhenti menari yang diajaknya ngobrol berubah menjadi diam dengan wajah datar. Ia tidak menari lagi.

Pesta masih berlangsung sangat meriah, sementara orang tersebut menunggu orang lain yang berhenti karena capek menari. Orang-orang yang berhenti sejenak itu, yang telah diajak ngobrol oleh orang tersebut semua berubah menjadi diam. Kemudian di tengah meriahnya pesta, orang tersebut yang diikuti oleh beberapa orang yang diajaknya ngobrol, meninggalkan aula pesta. Entah apa tujuannya, namun yang jelas, orang itu datang bukan untuk merayakan pesta bersama. Bukan untuk memeriahkan pesta bersama warga desa. Ia datang sendiri dan pulang membawa beberapa teman yang ditemukannya di area pesta.

Nun jauh di sana, selang beberapa bulan dari pesta meriah kerajaan, terdengar adanya pesta kecil yang dihadiri oleh warga desa yang diajak oleh orang yang diam di pesta kerajaan.

Seorang punggawa kerajaan sempat bicara masalah itu kepada sang Raja,

“Ya, aku tahu itu,” kata sang Raja.

“Mengapa tuanku diam saat tahu bahwa dia sengaja mempengaruhi warga yang sedang memeriahkan pesta?”

“Dia belum bisa mencarinya di luar. Biarkan saja, selama hal itu masih menambah teman-temannya. Aku malah senang bahwa dia menemukan teman di aulaku. Walaupun dia meninggalkan aulaku, setidaknya dia telah menemukan teman dari yang aku kumpulkan di sini. Dia sudah tidak berhubungan denganku, tapi dia berhubungan dengan teman-temanku.”

Setiap panen tiba, kerajaan kembali mengadakan pesta perayaan kerajaan. Dan setiap kali pesta berlangsung, selalu ada orang yang datang yang ingin mencari teman di aula pesta. Sang Raja mendiamkannya, karena ia sadar bahwa hal itu adalah cerita kehidupan yang selalu ada. Cerita yang selalu berulang dengan pemeran yang berbeda.

Leave a response